.: Anda Suka Blog Ini? :.

.: Komentar Warga FB :.

Rabu, 19 Ogos 2009

Ditolak Perancis, Burqini Diwajibkan Di Inggeris


Burqini merupakan pakaian renang bagi wanita Muslim. (SuaraMedia News)

Burqini merupakan pakaian renang bagi wanita Muslim. (SuaraMedia News)

LONDON (SuaraMedia News) – Beberapa kolam renang di Inggris menerapkan sebuah aturan berpakaian Muslim di mana para perenang, termasuk non-Muslim, diminta untuk mengenakan ‘burqini’ ketika berenang.

Para perenang telah diberitahu bahwa mereka harus mematuhi peraturan tersebut seperti yang dianjurkan dalam tradisi Islam atau mereka tidak akan boleh masuk ke fasilitas kolam renang.

Menurut tradisi itu, wanita harus menutupi tubuhnya mulai dari leher hingga ke mata kaki, sementara laki-laki, yang berenang di kolam terpisah, harus tertutup dari pusar hingga lutut.

Fenomena ini merupakan kebalikan dari apa yang terjadi di Perancis minggu lalu ketika seorang wanita Muslim diusir dari kolam renang umum karena mengenakan burqini – pakaian renang Muslim yang didesain untuk menutupi seluruh bagian tubuh kecuali muka, telapak tangan dan kaki.

Carole, wanita berusia 35 tahun itu, mengajukan tuntutan hukum ke pengadilan setelah ia dilarang menggunakan kolam renang di Emerainville, Paris timur, dengan memakai burqini.

Namun, sejumlah kolam renang milik pemerintah kota di Inggris mengatur jadwal renang khusus untuk kaum Muslim, yang dalam beberapa kasus juga menerapkan aturan berpakaian yang ketat.

Dewan kota Croydon di selatan London mengelola sesi renang terpisah untuk pria dan wanita Muslim dengan durasi masing-masing satu setengah jam, setiap hari Sabtu dan Minggu di Thornton Heat Leisure Center.

Minggu lalu, pengunjung kolam renang mendapat pemberitahuan dari situs Thornton Heat Leisure Center bahwa “selama sesi renang khusus Muslim kostum yang dikenakan pengunjung pria harus menutupi tubuh mulai dari pusar hingga lutut, dan untuk wanita harus menutupi seluruh tubuh hingga ke pergelangan tangan dan kaki.”

Di Scunthorpe Leisure Centre, utara Lincolnshire, peraturan serupa juga diterapkan di mana “para pengunjung kolam renang harus mengikuti aturan berpakaian untuk sesi ini (kaos dan celana pendek atau legging yang menutupi hingga bagian bawah lutut)”.

Di Glasgow, sesi renang khusus laki-laki diorganisir oleh jamaah Masjid setempat di North Woodside Leisure Centre, di mana para perenang harus menutupi tubuhnya dari pusar hingga lutut.

Dalam sebuah kelas renang khusus wanita yang diasuh oleh seorang guru Muslim di kolam renang Blackbird Leys, Oxford, untuk mendorong wanita Muslim belajar berenang, sebagian besar peserta mengenakan kostum renang “sederhana” meskipun kostum yang normal diperbolehkan.

Aturan berpakaian itu memicu kritik dari berbagai pihak yang mengatakan peraturan tersebut menimbulkan perpecahan dan ketidaksukaan antara Muslim dan non-Muslim, dan menghambat kohesi sosial.

Beberapa anggota parlemen dari Partai Buruh menuduh gerakan itu bersifat memecah-belah yang pada akhirnya akan memberikan dampak negatif pada hubungan antar komunitas.

“Saya rasa kita tidak harus mengenakan pakaian jenis tertentu di kolam renang umum milik pemerintah, hanya demi menguntungkan orang lain. Itu bukan kohesi atau integrasi,” ujar Anne Cryer, seorang anggota Partai Buruh, seperti yang dikutip oleh The Telegraph.

“Ini terlihat seperti permintaan perlakuan khusus. Saya tidak mengerti mengapa pakaian jenis tertentu diperlukan untuk kolam renang yang memisahkan laki-laki dan perempuan,” ujarnya.

Ian Cawsey, anggota parlemen dari Partai Buruh untuk konstituensi Brigg dan Goole, North Lincolnshire, mengatakan, ”Tentu saja tiap kolam renang memiliki aturan dasar berpakaian, tapi tidak harus sejauh itu.”

Sementara itu, Douglas Murray, direktur Pusat Kohesi Sosial, mengecam praktik penerapan aturan berpakaian Muslim tersebut.

“Non-Muslim melihat ini sebagai sebuah contoh bahwa kaum Muslim menginginkan semuanya sesuai dengan gaya hidup mereka, sementara di saat yang sama tidak demikian halnya dengan kaum Hindu, Budha, atau Yahudi,” ujar Murray.

Sesi renang Muslim juga diselenggarakan di sejumlah sekolah negeri di seluruh Inggris. Di Loxford School, Ilford, London timur, sebuah kelompok Muslim setempat mengorganisir sesi mingguan untuk pria Muslim, dengan peringatan bahwa mereka “wajib untuk menutupi tubuh antara pusar hingga lutut”.

Seorang anggota dewan kota Croydon, yang memperkenalkan sesi renang khusus Muslim di tahun 2006, mengklaim bahwa pemilihan kata-kata dalam situs mereka adalah sebuah kesalahan dan aturan berpakaian itu hanya bersifat himbauan bukan kewajiban.

Situs fasilitas kolam renang itu kemudian menghilangkan bagian informasi mengenai aturan berpakaian.

Bagaimanapun, salah seorang stafnya mengatakan bahwa aturan tersebut masih diterapkan.

Sebelumnya, seorang juru bicara dewan Croydon membela kebijakan yang dianggap memecah-belah itu dengan mengatakan, “Kami menghargai bahwa beberapa kelompok relijius, seperti Muslim, memiliki aturan pemisahan yang tegas untuk sejumlah aktivitas, termasuk olahraga. Jadi, sebagai tanggapan atas permintaan komunitas setempat, kami pun menyelenggarakan sesi khusus ini di Thornton Heath Leisure Centre.” (rin/bnn/tlg/fn) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 ulasan:




 

BICARA TINTA Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template