.: Anda Suka Blog Ini? :.

.: Komentar Warga FB :.

Jumaat, 4 September 2009

Puasa Tingkatkan Kualiti Atlit Dunia


Pemain sepakbola asal Oakland, Fuad Suleiman tetap menjalankan puasa meski beberapa temannya tengah menyantap hidangan dengan suka cita. (SuaraMedia News)

Pemain sepakbola asal Oakland, Fuad Suleiman tetap menjalankan puasa meski beberapa temannya tengah menyantap hidangan dengan suka cita. (SuaraMedia News)

WASHINGTON (SuaraMedia News) – Seorang penyiar di lapangan menyarankan semua orang untuk minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi. Di hari yang panas, dengan sinar matahari yang seringkali menyengat, itu tampak seperti sebuah ide yang bagus.

Aisam-ul-Haq Qureshi dari Pakistan memiliki beberapa botol air yang tertata berjejer di bawah kursinya di Lapangan 10, meskipun ini adalah bulan Ramadhan, ketika banyak kaum Muslim yang menahan diri untuk tidak makan dan minum sejak pagi hingga sore.

“Saya harus bertangung jawab pada Tuhan,” ujar Qureshi setelah ia dan pasangan gandanya yang baru, Jarkko Nieminen dari Finlandia, mengalahkan Andrey Golubev dari Kazakhstan dan Denis Istomin dari Uzbekistan, 4-6, 7-6 (11), 6-4, di AS Terbuka pada hari Kamis.

Dalam kelanjutan pencarian Qureshi akan pasangan ganda, ini adalah pertandingan pertama yang dimainkan bersama oleh keduanya. Qureshi telah menunjukkan kebebasannya dengan bermain ganda bersama pemain Israel dan India, memperlihatkan bahwa ia menganggap mereka sebagai saudara dalam tur tersebut, dan juga dalam kehidupan.

Selain itu, seperti yang dikatakan Qureshi, ”Sekarang tidak ada lagi petenis Pakistan lain dalam tur ini.”

Qureshi, yang berusia 29 tahun dan berasal dari Lahore, adalah salah satu dari sedikit petenis Muslim dalam tur tersebut. Ia berbicara dengan penuh rasa hormat mengenai Ramadhan, yang tahun ini dimulai sejak 22 Agustus lalu.

Ada perkecualian khusus bagi wanita hamil, tentara, orang yang sakit jiwa, anak-anak, dan orang yang hidupnya susah untuk tidak melakukan puasa. Qureshi menempatkan dirinya dalam kategori itu.

“Berpuasa menjadikanmu lebih sabar. Kau selalu memikirkan Tuhan,” ujar Qureshi.

“Saya tidak berpuasa ketika jauh dari rumah,” ujarnya. “Namun ketika saya sedang berada di rumah, saya selalu berusaha maksimal. Saya menghormati bulan ini, namun rasanya sedikit sulit. Kau tidak bisa berpuasa sambil bertanding. Kau memerlukan banyak cairan.” Ia mengatakan pernah mencoba tetap berpuasa ketika masih menjadi petenis junior namun malah berakhir dengan kram.

Qureshi telah menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang petenis, berpasangan dengan Amir Hadad dari Israel pada tahun 2002 dan menuai kritik dari negaranya. Federasi Tenis Internasional saat itu mengatakan bahwa mereka tidak mentolerir prasangka buruk dalam bentuk apa pun dan bahwa Qureshi memiliki hak untuk memilih pasangannya. Sejak saat itu Qureshi telah bermain ganda bersama Rohan Bopanna dan Prakash Amritaj, keduanya dari India, menyebut mereka “sahabat saya selama tur”.

Ia juga pernah berpasangan dengan Sam Querrey dari Amerika. Namun, untuk AS Terbuka kali ini ia membutuhkan pasangan yang berbeda. Pilihannya adalah Nieminen, 28, pemain tunggal dengan ranking di atas Qureshi yang baru saja kembali dari cedera pergelangan tangan. Mereka telah saling mengenal selama 10 tahun, sejak masih menjadi petenis junior, namun belum pernah berpasangan hingga hari ini.

Pada hari Kamis, sekitar 250 penggemar memadati Lapangan 10 – beberapa lusin keturunan Finlandia dan serombongan penggemar Pakistan – untuk menyaksikan pertandingan Qureshi.

Para pemain sepakbola Eropa dan Amerika membuat keputusan mereka masing-masing tentang bagaimana mereka akan menjalani bulan puasa.

Baru-baru ini, Jose Maurinho, pelatih Inter Milan, mengeluarkan salah satu pemainnya, Sulley Mutari dari Ghana, dari sebuah pertandingan, kemudian mengatakan bahwa pemain itu mungkin akan dilemahkan oleh puasa. Di bawah banyak kritik, Mourinho sejak saat itu telah mengatakan bahwa ia tidak bermaksud mengkritik Islam. Franck Ribery, seorang pemain sepakbola mualaf asal Perancis yang bermain di klub Bayern Munich, telah mencoba tetap berpuasa namun kini mengkonsumsi makanan penuh gizi untuk pertandingan-pertandingan yang dilakoni. Sedangkan Hakeem Olajuwon, bintang Houston Rockets yang telah pensiun, selalu berpuasa di bulan Ramadhan termasuk ketika ia masih aktif bertanding.

“Ketika perutmu penuh, kau menjadi lelah, malas, dan terlalu santai,” ujar Olajuwon di tahun 2007. “Kau bisa memperoleh energi yang begitu besar dari puasa. Ketika perutmu kosong, kau mendapat banyak oksigen dan kau bisa bernapas.”

Namun, sebagian besar pertandingan Olajuwon dilakoni pada malam hari.

Freddie Kanoute, pemain sepakbola dari klub Sevilla, meyakini bahwa seorang pemain sepakbola modern dapat tetap berada pada kondisi fisik yang prima selama bulan suci Ramadhan.

“Saya mencoba menghormati keyakinan saya dan mengikutinya semaksimal kemampuan saya,” ujar Kanoute.

“Terkadang lebih berat untuk tetap berpuasa karena di Spanyol selatan sini cuacanya sangat panas, tapi saya bisa melakukannya. Terima kasih Tuhan.”

“Banyak pesepakbola Muslim di Inggris, Perancis, Spanyol, dan liga-liga lainnya yang tidak diketahui oleh orang-orang. Namun, memiliki keyakinan dan mempraktikkan Ramadhan bukanlah sesuatu yang ingin mereka ceritakan kepada dunia.”

“Secara pribadi, memiliki keyakinan membantu saya dalam bermain sepakbola dan sepakbola membantu saya menjadi sehat dan memperkuat saya. Tidak ada konflik karena mereka yang tahu tentang Islam, tahu bahwa berpuasa memperkuat dan tidak melemahkan kaum Muslim.”

Mahamadou Diarra dari Real Madrid sependapat dengan Kanoute.

“Semua pelatih menghormati keputusan saya,” ujar Diarra di halaman profil Real Madrid.

“Ada hari-hari sulit ketika seseorang butuh untuk makan, tapi ini hanya berlangsung selama satu bulan. Saya masih memiliki 10 bulan lain untuk bermain dengan bagus.”

Pendirian pemain Sevilla dan Real Madrid terhadap bulan Ramadhan itu didukung oleh spesialis terkemuka dr. Yacine Zerguni, anggota Komite Medis FIFA dan CAF Sports.

Bersama dengan F-marc, pusat penelitian dan penilaian medis FIFA, dr. Zerguni mempelajari efek dari pelaksanaan puasa Ramadhan beberapa pemain Muslim. Dua pesepakbola profesional dari Aljazair bersedia menjalani tes biologis, klinis, dan psikologis selama dan setelah bulan Ramadhan.

Studi itu menjadi yang pertama di dunia dalam kasus khusus ini dan menjadi pondasi bagi analisis ilmiah mengenai potensi dampak Ramadhan terhadap performa pemain.

Ketika ditanya apakah Ramadhan sesuai dengan latihan para pemain sepakbola top, dr. Zergini mengatakan, “Ini adalah bulan disiplin mental dan fisik diri, yang juga harus bebas dari sikap agresif dan tidak sehat lainnya.”

“Ramadhan dimaksudkan sebagai masa penyucian diri dan meditasi, masa regenerasi. Jauh dari kata menyakiti. Memang, studi psikologis terhadap kepribadian menjadi bagian tak terpisahkan dari proyek penelitian kami. Dan meskipun banyak pemain yang diuji tidak mampu beradaptasi tetap berpuasa ketika bertanding, kita harus ingat bahwa efek Ramadhan juga terkait dengan kualitas spiritual dan kemampuan fisik tiap atlet.”

“Karena itu, beberapa pemain tertentu yang tetap berpuasa ketika bertanding, tubuh mereka dapat beradaptasi karena mereka telah terbiasa, namun banyak juga pemain yang menjadi kelelahan. Para pemain harus melakukan rutinitas sebelum dan sesudah pertandingan yang akan membantu mereka memelihara energi dan kekuatan.” (rin/nyt/gl) Dikutip oleh www.suaramedia.com

0 ulasan:




 

BICARA TINTA Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template