.: Anda Suka Blog Ini? :.

.: Komentar Warga FB :.

Isnin, 17 Mei 2010

Dr. Demah Tahbob: Rundingan Damai Hanya Menambah Derita Palestin




Amman – Infopalestina; -Penulis politik wanita Yordania, Dr. Demah Tahbob menegaskan bahwa pelajaran yang paling berharga bagi Arab dan bangsa Palestina dari peringatan Nakbah (hari prahara) adalah berinteraksi dengan hitungan tahun dengan logika putus asa, menerima kompromi-kompromi dan melepaskan hak dengan alasan bahwa hal tersebut adalah pilihan terbaik.

Dalam wawancara khusus dengan Infopalestina, ia mengatakan:”Logika kekuatan yang menciptakan kebenaran menurut Ben Gurion saat pendirian entitas Zionis Israel, adalah logika yang kini diwarisi oleh para petinggi politik Zionis sekarang ini. Tidak ada perbedaan antara kelompok liberal atau garis keras di antara mereka. Adapun logika perundingan damai hanya akan menambah kehinaan dan derita saja.”

Tahbob menekankan agar bangsa Arab dan kaum muslimin untuk terus peduli terhadap isu Palestina dan penduduknya dengan mengatakan;”Dukungan itu harus bersifat wajib tanpa henti, tidak terbatas pada waktu dan peringatan tertentu.”

Terkait dukungan masyarakat, Tahbob mengisyaratkan bahwa dukungan masyarakat kepada isu dan bangsa Palestina tidak boleh dikaitkan dengan kepentingan politik, yang sudah jelas kegagalan dan kerugiannya.

Dr. Tahbob mengajak umat Islam untuk membina generasinya komitmen pada hak-hak paten Palestina dengan mengatakan;”Minimal apa yang bisa kita bina terhadap generasi mendatang adalah berpegang teguh pada tanah air, hak kembali dan memerdekakan Palestina dari laut hingga darat.”

Terkait keteguhan bangsa Palestina memegang hak patennya, Tahbob mengomentari dengan mengatakan:”Interaksi dengan kebijakan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Otoritas Palestina (OP) dan Oslo, menjadikan pihak Zionis Israel berani mengusulkan ide transfer, tanah air pengganti, pengusiran warga Palestina, penggusuran tanah dan meningkatnya pembangunan permukiman Yahudi.”

Seputar peran Palestina ’48, Tahbob mengatakan:”Isu Palestina, walaupun memiliki dimensi Arab dan umat Islam, ia juga berdimensi internal. Itu terwakili oleh Palestina ’48 yang menjadi garis terdepan dalam membela Palestina dan menghadang semua program Zionis. Khususnya masalah kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.”

Tentang strategi pihak Zionis Israel sejak menjajah Palestina, Tahbob mengatakan:”Zionis Israel bekerja dengan napas yang panjang dan rencana panjang hingga tahun 2020, yaitu tahun dimana Al-Quds telah diyahudisasikan seratus persen dan selesai merancang telaga suci.”

Ia menambahkan,”Secara riil mereka telah melakukan penggusuran tanah, penggantian nama jalan dan tempat serta pembangunan miniatur kota David.” Soal upaya bangsa Arab dan umat Islam dibandingkan dengan upaya pihak Zionis Israel, Tahbob mengatakan;”Upaya serius Zionis ini seharusnya diimbangi dengan upaya Arab dan Umat Islam. Jauh dari tekanan politik untuk mengeksiskan penduduk dan lembaga-lembaga Palestina di Al-Quds serta mengefektifkannya. Mengefektifkan warga Palestina di Eropa untuk menekan pemerintah Eropa dalam mendukung isu Palestina.”

Mengenai inspirasi dari sejarah masa lalu yang kemudian dikaitkan dengan isu Palestina, Tahbob mengisyaratkan dengan mengatakan:”Orang-orang Salib pernah menjajah Al-Quds selama ratusan tahun, merubah tatanan kota suci itu dan menjadikan masjid-masjid didalamnya sebagai tempat buang kotoran kuda-kudanya.”

Tahbob melanjutkan,”Perimbangan kekuatan di dua kondisi tersebut berpihak kepada musuh, namun hal itu tidak membuat mereka merasa puas. Pengorbanan pun harus mengorbankan jutaan syuhada. Sejarah tidak akan pernah berulang kecuali dengan jalan dan menempuh garis perjuangan yang sama.”

Di akhir wawancaranya, Tahbob mengatakan;”Umat Islam ini tidak akan pernah menang kecuali dengan apa yang pernah diraih oleh para pendahulunya.”

Berikut wawancara selengkapnya:

* Inspirasi apa yang bisa kita ambil dari peringatan Nakbah ke-62 bagi bangsa Palestina?

**Inspirasi yang bisa diambil oleh bangsa Arab dan umat Islam dari peringatan Nakbah ini adalah mensikapi tahun-tahun penjajahan ini tidak dengan menggunakan logika putus asa, menerima kompromi-kompromi dan melepaskan hak dengan alasan bahwa hal tersebut adalah pilihan terbaik.

Bahkan kewajiban bangsa Arab dan umat Islam terhadap isu Palestina dan penduduknya bersifat permanen. Dukungan itu harus bersifat permanen tanpa henti, tidak terbatas pada waktu dan peringatan tertentu.

*Soal dukungan masyarakat Arab dan Islam seperti apa?

**Dukungan masyarakat terhadap isu dan bangsa Palestina, seharusnya tidak memperhitungkan deal-deal politik, yang terbukti gagal dan selalu merugikan isu Palestina itu sendiri.

Saya menyerukan putera-putera umat Islam untuk membina generasinya komitmen pada hak-hak paten Palestina. Minimal apa yang bisa kita bina terhadap generasi mendatang adalah berpegang teguh pada tanah air, hak kembali dan memerdekakan Palestina dari laut hingga darat. Tidak dibatasi dengan kantong-kantong berlatar-belakang kekalahan perang tahun 1948 dan 1967, tanah-tanah yang dibagi-bagi sesuai keputusan PBB nomor 242 dan 338 serta latar-belakang lainnya. Sehingga Palestina menjadi kawasan yang tercerai-berai dan kekuasaan yang tak memiliki kebebasan memutuskan atau illegal.

*Perundingan-perundingan damai selama bertahun-tahun ini, sejak Nakbah, apakah bisa mewujudkan sesuatu bagi bangsa Palestina?

** Interaksi dengan kebijakan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Otoritas Palestina (OP) dan Oslo, menjadikan pihak Zionis Israel berani mengusulkan ide transfer, tanah air pengganti, pengusiran warga Palestina, penggusuran tanah dan meningkatnya pembangunan permukiman Yahudi.

Sebaliknya, logika kekuatan yang menciptakan kebenaran menurut Ben Gurion saat pendirian entitas Zionis Israel, adalah logika yang kini diwarisi oleh para petinggi politik Zionis sekarang ini. Tidak ada perbedaan antara kelompok liberal atau garis keras di antara mereka. Adapun logika perundingan damai hanya akan menambah kehinaan dan derita saja.

*Peran apa yang bisa dimainkan oleh orang Palestina yang tinggal di tanah ’48?

**Isu Palestina, walaupun memiliki dimensi Arab dan umat Islam, ia juga berdimensi internal. Itu terwakili oleh penduduk Palestina ’48 yang menjadi garis terdepan dalam membela Palestina dan menghadang semua program Zionis. Khususnya masalah kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha.

*Taktik apa yang dipakai Zionis Israel untuk mengokohkan eksistensinya di tanah Palestina, khususnya kota Al-Quds?

**Strategi Zionis Israel sejak mulai menjajah Palestina didasarkan pada rancangan yang dikaji secara serius. Merka bekerja dengan napas yang panjang dan rencana panjang hingga tahun 2020, yaitu tahun dimana Al-Quds telah diyahudisasikan seratus persen dan selesai merancang telaga suci.

Secara riil mereka telah melakukan penggusuran tanah, penggantian nama jalan dan tempat serta pembangunan miniatur kota David.

*Di saat pihak Zionis Israel serius untuk menjadikan kota Al-Quds sebagai kota Yahudi, apa yang Anda serukan kepada bangsa Arab dan umat Islam?

**Upaya Zionis Israel ini harus diimbangi dengan upaya Arab dan umat Islam yang sama, jauh dari tekanan politik. Untuk mengeksiskan penduduk dan lembaga-lembaga Palestina di Al-Quds serta mengefektifkannya. Mengefektifkan warga Palestina di Eropa untuk menekan pemerintah Eropa dalam mendukung isu Palestina.

*Inspirasi apa yang bisa diambil dari sejarah untuk berikteraksi dengan isu Palestina?

**Pada dasarnya, orang-orang Salib dulu pernah menjajah Al-Quds selama ratusan tahun, merubah tatanan kota suci itu dan menjadikan masjid-masjid didalamnya sebagai tempat buang kotoran kuda-kudanya. Sejarah modern juga mencatat, Aljazair juga mengalami penderitaan penjajahan Perancis lebih dari satu abad. Namun hal itu tidak membuat mereka bungkam, bahkan mereka mengumandangkan semanagat jihad agar bisa meraih kemerdekaan.

Perimbangan kekuatan di dua kondisi tersebut berpihak kepada musuh, namun hal itu tidak membuat mereka merasa puas. Pengorbanan pun harus mengorbankan jutaan syuhada. Sejarah tidak akan pernah berulang kecuali dengan jalan dan menempuh garis perjuangan yang sama.

Orang-orang Zionis itu, bukanlah satu-satunya bangsa yang paling kejam dalam sejarah, sebelumnya bangsa Mongolia telah diutus kepada kaum muslimin dengan mengatakan;”Menyerahlah kalian, kami bangsa yang tak belas kasihan kepada siapa yang menangis, tak ibah kepada siapa yang mengadu. Kalian tidak punya tanah yang bisa melindungi, tidak ada jalan yang bisa menyelamatkan, tak ada negeri yang melindungi kalian. Kalian tidak akan lolos dari pedang kami, kehebatan kami tak ada tandingannya, benteng kalian tidak akan menghalangi, tentara yang akan melawan kami tidak ada manfaatnya dan aduan kalian tidak kami dengar.” Bahasa itu yang kini dipakai oleh Zionis Israel menghadapi bangsa Arab dan dunia seluruhnya.

Namun, untuk kondisi pertama, datang panglima Qutuz menghabisi panglima Mongolia, Holako dalam perang di Ain Jalut.

*Pesan terakhir untuk putera-putera umat Islam?

**Umat (Islam) ini tidak akan menang kecuali dengan cara yang pernah dipakai oleh para pendahulunya.#


Dipetik daripada infopalestina

0 ulasan:




 

BICARA TINTA Copyright © 2008 Black Brown Art Template by Ipiet's Blogger Template